Rabu, 07 Juni 2017

REFORMASI HIMMPAS ULUL ALBAB


Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana, yang disingkat dengan Himmpas Ulul Albab adalah sebuah wadah kegiatan mahasiswa pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kelahiran cikal bakal Himmpas Ulul Albab UIN Malang sebenarnya hampir bersamaan dengan berdirinya Program Pascasarjana di kampus tersesebut, yang pada saat itu masih bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri  (STAIN) Malang pada tahun 1999. Namun, pada saat itu hanya berupa perwakilan dan belum berbentuk komisariat mandiri sebagai organisasi seperti sekarang.

Himmpas UIN Malang berubah menjadi sebuah organisasi resmi dengan nama Himmpas Ulul Albab sejak dua tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2015. Hari ini Himmpas Ulul Albab melakukan musyawarah besar, diantaranya untuk memilih ketuanya yang baru, periode ketiga 2017-2018.

Dalam kesempatan menyampaikan kata pembuka sebelum musyawarah berlangsung, saya katakan bahwa Himmpas adalah merupakan sarana untuk beraktifitas dan mengembangkan kreatifitas atau dalam bahasa Arab disebut dengan Wajihah Amal, sama sekali keberadaan Himmpas bukanlah tujuan.

Karena itu, kesuksesan kader Himmpas diukur dengan banyaknya aktifitas dan kreatifitas, bukan karena posisi dan jabatannya. Meskipun menjabat sebagai ketua umum Himmpas, belum tentu dia yang paling istimewa jika tidak dibarengi dengan kreatifitas dan amal yang banyak. Sebaliknya, meskipun anggota biasa atau mantan ketua sekalipun yang tidak menjadi apa-apa, jika dia tetap masih aktif beraktifitas bersama organisasi Himmpas, bisa jadi dialah yang paling banyak amalnya, dan itulah yang akan dinilai oleh Allah swt.

Tujuan berorganisasi di Himmpas tidak lain adalah untuk menebar kebaikan untuk semua orang. Karena itu, fokus kerja yang diharapkan, pertama: mengembangkan ide dan gagasan tentang kajian ke-Islam-an modern, utamanya gagasan tentang syumuliyatul Islam, bahwa Islam merupakan konsep yang layak untuk dipertimbangkan dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan modern, kedua: mengembangkan kompetensi yang dimiliki oleh anggotanya, dengan berbagai kegiatan yang direncanakan, ketiga: menumbuhkan jiwa interpreneur yang merupakan bagian dari kebutuhan manusia dalam kehidupan ini sehingga dapat lebih memberi kebermanfaatan dan tidak menggantungkan kepada orang lain.

Untuk menjaga kelestarian Himmpas Ulul Albab kedepan, minimal ada tiga budaya yang harus dikembangkan oleh pengurus dan anggota Himmpas.

Pertama: Budaya Ilmiah-Akademik. Aktifis Himmpas harus menjadi mahasiswa yang unggul dari sisi akademik, diantara indikator sederhananya adalah lulus tepat waktu, memiliki kebiasaan menuangkan ide dan gagasannya dalam tulisan yang terpublikasikan dan cakap dalam menyelesaikan berbagai persoalan dengan menggunakan pendekatan ilmiah-akademik.

Kedua: Budaya Komunikasi. Aktifis Himmpas harus menjadi manusia yang bermanfaat buat orang lain, diantaranya aktif dalam menebar dan menyampaikan kebaikan kepada semua orang. Dengan memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan efektif, akan lebih mudah menyampaikan kebaikan dan gampang diterima oleh orang lain. Dengan demikian, penguasaan terhadap seni berkomunikasi menjadi penting dan perlu segera dilatih.

Ketiga: Budaya Organisasi. Organisasi yang baik adalah jika dijalankan oleh orang-orang yang memiliki komitmen dengan aturan yang telah disepakati dalam organisasi tersebut. Budaya organisasi dengan berbagai bentuknya harus menjadi perhatian bagi setiap anggota Himmpas. Koordinasi rutin, kerja jama’i dan mengevaluasi hasil kerja adalah merupakan budaya organisasi yang tidak boleh terlupakan.

Dengan melaui koordinasi, semua anggota akan merasa diikutkan dalam pengambilan suatu keputusan dan semua akan merasa bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut. Dengan kerja jama’i dan pembagian tugas yang tuntas, tidak ada program yang tidak terselesaikan dengan baik dan tidak ada potensi yang tersia-siakan. Dengan evaluasi, akan dapat diketahui sejauh mana capain kerja dalam sebuah organisasi, begitu juga kekurangan dan kelemahan yang harus disempurnakan kemudian.

Selamat bermusyawarah, semoga menghasilkan keputusan yang baik dan aplikatif untuk semua. Wallahu a’lam.

Selasa, 06 Juni 2017

GERAKAN SANTRI MENULIS

Sekitar sebulan yang lalu salah seorang kawan yang tinggal di Jakarta mengirim pesan melalui WA menanyakan keberadaan saya sekarang, apakah sudah di Indonesia atau belum? Alhamdulillah saat itu baru saja datang dari Amman selama kurang lebih 10 hari dalam rangka konferensi Internasional tentang Islam dan Tantangan Modern.

Kemudian komunikasi dilanjutkan melalui telepon, salah satu temanya adalah beliau mengenalkan kepada saya seorang supervisor dari Mandiri Amal Insani (MAI) Foundation, namanya Abdul Hadi. Komunikasi dengan Bang Hadi pun berlangsung, baik melalui telepon maupun sms, akhirnya kami sepakati untuk mengadakan acara Gerakan Santri Menulis untuk para santri Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah Malang.

Dan tidak tanggung-tanggung, tim pelatihan santri menulis dari MAI kali ini adalah Bunda Pipit Senja, penulis terkenal dari Jakarta, begitu juga Kang Romel, seorang wartawan senior yang tinggal di Bandung.

Untuk yang kesekian kalinya, saya harus bicara lagi tentang menulis. Kita harus terus menggelorakan semangat menulis, menulis dan menulis. Menulis adalah merupakan bukti bahwa kita masih hidup, demikian kata para penulis terkenal seperti Prof Imam Suprayogo yang diamini pula oleh bunda Pipit.

Setiap orang, dengan segala keistimewaan yang diberikan oleh Allah, pasti memiliki ide, gagasan dan berbagai lintasan kebaikan dalam benaknya. Namun tidak semua orang dapat menyampaikan itu secara lisan, karena keterbatasan waktu dan tempat. Dengan menggunakan media tulis, kita dapat menyampaikan seluruh lintasan fikiran kita tanpa dibatasi oleh apapun. Seorang kawan, ketika saya ajak untuk menuliskan lintasan fikirannya, dia mengatakan, "oke, saya mau ambil laptop dulu". Saya katakan kepadanya, anda kan bisa menulis di ponsel anda, gak perlu lagi harus mengambil laptop. Justru kalau harus mengambil laptop terlebih dahulu, bisa jadi idenya sudah hilang berlalu.

Menulis itu mudah, semua orang dapat melakukannya. Bahkan di penjara pun kegiatan menulis dapat dilakukan dengan mudah. Bukankan Sayyid Qutub telah menulis Dzilalnya dalam penjara? Bukankah HAMKA telah menulis tafsirnya Al Azhar di dalam penjara. Saya pernah mengunjungi lapas Sukamiskin, ternyata dari lapas itu juga telah muncul berbagai buku yang sangat penting dan bermanfaat untuk menggugah semangat dan merubah orientasi dalam hidup ini. Padahal mereka sedang dipenjara dan secara psikologis masa depan mereka terancam.

Dengan menulis, kita akan banyak memberi manfaat buat orang lain. Bukankah baginda Nabi Muhammad saw telah bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain".

Jika kita mau memberi manfaat kepada orang lain menunggu kalau sudah menjadi pejabat sehingga omongan kita akan didengar dan dipercaya oleh masyarakat, maka bisa jadi kita tidak akan dapat mencapainya, sebabnya adalah karena pos jabatan itu sangat terbatas. Presiden di Indonesia juga hanya satu.

Dengan menulis kita sudah dapat memberi manfaat kepada orang lain tanpa harus menjadi pejabat terlebih dahulu.

Bagi santri di Pondok Pesantren, ketrampilan menulis sangat penting untuk dikuasai. Santri adalah calon da'i yang akan menyampaikan kebaikan Islam kepada umat. Mereka adalah orang-orang yang telah memiliki dasar keagamaan yang baik, mereka hafal al Quran, hadis dan berbagai literatur ke-Islam-an lainnya.

Jika ide dan gagasan mereka yang sudah diwarnai dengan nilai-nilai Islam itu tertuangkan secara tertulis dan dapat dikonsumsi oleh banyak orang, maka akan semakin banyak kebaikan yang tersebar dan semakin banyak orang yang mengambil manfaat. Tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang dapat hidayah karena membaca tulisan-tulisan tersebut.

Semoga, pelatihan menulis untuk santri Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah Malang kali ini dapat menggugah dan menggerakkan kreatifitas kepenulisan dalam rangka untuk menebar kebaikan untuk sesama. Wallahu A'lam.

REFORMASI HIMMPAS ULUL ALBAB

Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana, yang disingkat dengan Himmpas Ulul Albab adalah sebuah wadah kegiatan mahasiswa pascasarjana U...